Firman Allah Ta’ala (Qs. Al Baqarah: 189):
يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْأَهِلَّةِ ۖ قُلْ هِيَ مَوَاقِيتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّ ۗ وَلَيْسَ الْبِرُّ بِأَنْ تَأْتُوا الْبُيُوتَ مِنْ ظُهُورِهَا وَلَٰكِنَّ الْبِرَّ مَنِ اتَّقَىٰ ۗ وَأْتُوا الْبُيُوتَ مِنْ أَبْوَابِهَا ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
“Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah: “Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadat) haji; Dan bukanlah kebajikan memasuki rumah-rumah dari belakangnya, akan tetapi kebajikan itu ialah kebajikan orang yang bertakwa. Dan masuklah ke rumah-rumah itu dari pintu-pintunya; dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung”.
◾Sebelum menyebutkan faedah dari Ayat di atas, maka kita sebutkan hikmah-hikmah puasa, di antaranya:
1. Puasa adalah beribadah kepada Allah Ta’ala dengan meninggalkan hal-hal yang dicintai oleh jiwa, seperti makanan, minuman, dan hubungan suami istri.
2. Mengingat nikmat Allah atas hamba-hambaNya dengan dimudahkannya makanan, minuman, dan hubungan suami istri. Karena ketika ia merasakan sakitnya kehilangan hal-hal tersebut saat berpuasa, ia akan mengingat nikmat Allah atas keberadaannya dan kemudahan mendapatkannya ketika berbuka.
3. Mendapatkan pahala yang besar dengan puasa tersebut, karena Allah Ta’ala mengkhususkan puasa untuk diri-Nya dan menjadikan balasannya langsung dari-Nya.
4. Mengingat keadaan saudara-saudaranya yang fakir dan kekurangan, sehingga ia memandang mereka dengan penuh kasih sayang belas kasih.
5. Membersihkan dan mendidik jiwa dengan ketaqwaan kepada Allah Ta’ala, membiasakannya bersabar dan menanggung hal-hal yang membawa manfaat baginya.
6. Banyaknya manfaat kesehatan yang dihasilkan dari puasa.
Dan masih banyak hikmah lainnya yang Allah Ta‘ala tampakkan kepada siapa saja yang Dia kehendaki dari hamba-hamba-Nya melalui perenungan atau Allah sembunyikan dari mereka.
👉 Faedah yang dapat dipetik dari ayat di atas:
1. Semangat para shahabat radiyaAllahu anhum dalam menuntut ilmu, (diantaranya dengan bertanya).
2. Perhatian Allah Ta’ala kepada hamba-hamba-Nya dan pengajaran-Nya kepada mereka tentang hal-hal yang bermanfaat.
3. Ilmu Allah Ta‘ala dan pendengaran-Nya meliputi terhadap semua perkataan manusia.
4. Bahwa hikmah dari adanya hilal dan penentuan fase-fase bulan hingga menjadi hilal adalah agar manusia mengetahui waktu-waktu mereka.
5. Bahwa bulan-bulan qamariyah adalah patokan waktu yang bersifat umum bagi seluruh manusia, karena kata “an-nas” (manusia) bersifat umum.
6. Tidak wajib berpuasa Ramadhan sebelum melihat hilalnya.
7. Tidak boleh berbuka (mengakhiri Ramadhan) sebelum melihat hilal Syawwal. Dan sunnah Nabi telah menunjukkan bahwa menyempurnakan bulan menjadi tiga puluh hari dihukumi seperti melihat hilal. Pada dua faedah keenam dan ketujuh inilah yang menjadi titik pengambilan dalil dari ayat ini.
8. Bukan termasuk kebajikan jika seseorang beribadah kepada Allah Ta’ala dengan sesuatu yang tidak disyariatkan-Nya.
9. Hakikat kebajikan adalah kebajikan orang yang bertaqwa kepada Allah Ta’ala dan tidak melampaui batas-batas-Nya dengan beribadah kepada-Nya dengan sesuatu yang tidak disyariatkan.
10. Disyariatkannya mendatangi rumah melalui pintu-pintunya, karena itulah jalan yang penuh hikmah dan keselamatan.
11. Wajibnya bertaqwa kepada Allah.
13. Bahwa bertaqwa kepada Allah Ta’ala merupakan sebab keberhasilan di dunia dan akhirat.
—————————–
Dinukil dari Kitab “Al Ilmam biba’dhi Ayatil Ahkam”, karya Syaikh Ibnu Utsaimin. hal. 245-250, cet. Muassasah Syaikh, 1436 H, Qashim KSA
Solo/18/02/26
30/Sya’ban/1447
Mohammad Alif,.